Zharif Hezarpili; bakat musik yang lahir tanpa ayah

Oleh: Roni Keron

Zharif Hezarpili sama sekali tak pernah menyangka, bahwa keikutsertaannya dalam grup Nasyid sekolah ketika kanak-kanak dulu itu telah ikut membidani kelahiran bakat musikalnya. Dari Nasyid itulah kemudian ia mendapatkan pengalaman nada-nada, serta irama-irama. Dan dari pengalaman itu pula kemudian guru-gurunya mengajak untuk masuk dalam kelompok-kelompok paduan suara.

Terlepas apakah ajakan-ajakan itu hanya untuk kebutuhan perlombaan-perlombaan semata, yang jelas dengan senang hati, Zharif menerimanya. Bagi Zharif saat itu, dengan aktivitas menyanyi, ia serupa punya saluran lain untuk meng-hilirkan kekakuannya mengikuti pelajaran-pelajaran di ruang kelas. Cukup lama juga ia bergelut dengan dunia tarik suara itu. Seingatnya, selama ia bersekolah di madrasah, selama itu pula ia aktif memadukan suara.

Setelah melanjutkan ke sekolah menengah pertama, Zharif seolah tidak mau membiarkan pengalaman musikalnya tertinggal begitu saja. Yang telah ia lahirkan di sekolah dasar, kemudian di sekolah menengah pertama ia mulai menatahinya—berjalan selangkah demi selangkah. Dengan terbata-bata ia menjejaki bakatnya, hingga kemudian menjadi hobi yang terus ia pijaki.

Bersamaan dengan program ekstrakurikuler kesenian di sekolahnya, Zharif berkesempatan mempelajari instrumen musik tradisi nusantara. Ia memilih talempong, sebuah instrumen perkusif melodis Minangkabau. Tak butuh waktu lama, jadilah ia seorang pemain talempong ketika itu.

Agaknya, memang bakat musikal itu benar yang telah menempel pada dirinya. Tak cukup waktu sebulan berlatih, telah beberapa repertoar yang ia kuasai. Melihat perkembangan permainannya yang begitu cepat, tak sedikit orang yang lekat menggemarinya. Ibu Gefniwati salah satunya, seorang guru kesenian di sekolah ketika itu. Dengan bangga ia mengajak Zharif bergabung menjadi pemusik di sanggar yang ia kelola. Dengan bangga pula, Zharif menerimanya. Barangkali, di sanggar itu, ia nantinya akan bertemu dengan banyak pemusik. Dari orang-orang itu, tentu bisa pula mempelajari ragam instrumen musik yang belum ia ketahui, begitu pikirnya.

Terang saja, di sanggar itu kemudian Zharif belajar banyak hal tentang musik. Tidak hanya mempelajari instrumen-instrumen musik, bagaiamana membuat sebentuk komposisi, aransemen, atau musik-musik untuk iringan sebuah tari juga dipelajarinya. Apa yang ia pelajari itu kemudian membuat ia selalu aktual dan eksis diantara kawan-kawan seusianya. Hingga di SMA, musisi tradisi menjadi sebuah identitas yang melekat dengannya. Karena itupun kemudian pihak sekolah memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengelola kreativitas-kreativitas siswa di bawah sanggar milik sekolah.

Daramkanwa, Candasuara upaya Zharif menandai dirinya

Lahir dan tumbuh dengan ayah seorang seniman, komposer, pendidik serta akademisi yang aktif dalam dunia ilmiah tentu sangat menguntungkan sekaligus merugikan bagi Zharif. Sangat mengenakkan sekaligus menyebalkan. Dengannya, tentu Zharif dengan cepat bisa dikenali di lingkungan-lingkungan kesenian. Menyebalkan ketika segala sesuatu tentang kesenimanannya yang selalu dibayang-bayangi oleh eksistensi ayahnya. Betapapun Zharif ingin mengatakan dalam kesenimanannya tidak ada hubungkait antara dirinya dan ayahnya, tetapi orang lain begitu susah memisahkannya secara genealogis.

Tetapi, Zharif ingin membuktikan dirinya. Sebagaimana sejak kecil, sejak ia berkenalan dengan kesenian atas dirinya sendiri, berlanjut di sanggar gurunya, sampai dipercaya mengelola sanggar sekolah, hingga kemudian mendapatkan gelar sarjana kesenian. Kesemuanya itu, tidak lain adalah pencapaian dari dirinya sendiri. Kiranya, Zharif telah berproses dengan dirinya sendiri. Proses yang ia lalui tanpa campur tangan ayahnya.

Dari proses itu, beberapa karya telah berhasil ia ejan, lahir dari rahim gagasannya. “Ayuak mego api-api”, begitu bunyi salah satu karyanya. Sebuah karya yang kemudian tumbuh dengan tantangannya sendiri. Bagaimana kemudian dengan 3 orang player bisa memainkan banyak variasi harmoni, serta ragam pola-pola ritma. Maka, dengan konsep multi instrumen, dimana satu orang harus bisa memainkan banyak instrumen, dengan mudah tantangan itu bisa diwujudkannya.

Kini, sambil berjalan, Zharif telah membangun jalannya sendiri. Jalan yang disiapkannya untuk 2 kelompok yang saat ini dikendarainya. Daramkanwa, sebuah kelompok ansamble perkusi yang memproduksi ritma-ritma Minangkabu dengan instrumen musik Darbuka. Serta Candasuara, sebuah ruang bagi beberapa orang komposer muda di kota Padangpanjang. Sebuah kelompok yang katanya sangat membutuhkan pengalaman musikalnya guna menciptakan wacana-wacana musik kekinian. Keduanya ia geluti sebagai usahanya untuk menandai dirinya di beranda kesenian Sumatera Barat. Sebuah upaya yang barangkali tidak dilakukan oleh ayahnya ketika mudanya.

Tinggalkan Balasan