Selatan Payakumbuh: puisi yang berbunyi

Selatan Payakumbuh, merupakan sebuah kelompok musik yang tumbuh di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, sebuah nagari yang sebenarnya berada dalam wilayah administrasi Kec. Luhak, Kab. Lima Puluh Kota. Daerah yang melandai di lereng gunung Sago, dan menurun saja menuju kota Payakumbuh. Oleh karena keberadaannya persis di arah selatan kota Payakumbuh, maka dari itu anak-anak muda ini menamakan kelompok mereka dengan Selatan Payakumbuh.

Kelompok ini diisi oleh anak-anak muda nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang yang cukup produktif. Mereka adalah Roni Keron, vokalis sekaligus gitaris, adalah seorang pegiat kesenian berupa musik, pegiat festival, juga sesekali menulis untuk seni dan budaya. Kemudian ada Andes Satolari sebagai gitaris juga vokalis, seorang pegiat musik, pegiat festival-festival masyarakat, dan mengelola sanggar seni dan budaya di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Kec. Luhak, Kab. Lima Puluh Kota yaitu sanggar seni Puti Ambang Bulan. Lalu pada Bas sekaligus vokal ada Iwan Cuwik, seorang pegiat musik, pegiat media audio visual, pencinta alam, sedang belajar untuk mengorganisir kegiatan-kegiatan anak muda terutama di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang panjang.

 

Pertunjukan Selatan Payakumbuh pada kegiatan Do It Yoursong Gerobak Kopi, Payakumbuh

Mereka, Selatan Payakumbuh, memulai proses pertama kali dengan bunyi-bunyi puisi, kerap mengeksplorasi bunyi-bunyi yang ada dalam puisi, kemudian menyanyikannya dalam baris-baris lagu. Menariknya, pengalaman-pengalaman memainkan musik-musik Minangkabau, menjadi ciri tersendiri. Yaitu berupa petikan-petikan idiom Minangkabau, yang kemudian dipadupadankan dengan vst-vst, plugin, serta efek-efek ambien diolah menjadi puisi tersendiri. Seolah mereka muncul di tengah-tengah perdebatan apakah ini musikalisasi puisi, puisi yang dimusikkan, atau puisi yang diirngi oleh musik. Yang pasti mereka berangkat dari sumber bunyi yang berasal dari puisi-puisi.

Beberapa reportoar-reportoar menarik yang telah mereka gubah diantaranya, Beri Aku Malam, Kusir Bendi, Sampan-Sampan di Baromban, yang merupakan puisi dari penyair Payakumbuh Iyut Fitra. Selain itu, Jemput Terbawa, yang berhasil dikemas setelah membaca novel Jemput Terbawa dari sastrawan muda Sumbar Pinto Anugrah.

 

Pertunjukan Selatan Payakumbuh pada kegiatan Payakumbuh Literary Festival 2018

Selain album puisi, beberapa tahun belakang, mereka telah mengeluarkan album mini pertama yang berjudul Apa Kabar Tuhan. Lagu-lagu mentah yang hanya dirilis seadanya di flatform digital berupa soundcloud.

Kini, di tengah kesibukan personilnya, Selatan Payakumbuh sedang mempresiapkan album ke dua yang berangkat dari puisi dan sastra penyair dan sastrawan Sumatera Barat. Untuk single pada album ini sudah bisa di dengar di flatform digital Soundcloud milik Selatan Payakumbuh.

Tinggalkan Balasan