Sawah Lenggek dan rezeki Rosmena nan batingkek-tingkek

Oleh: Roni Keron

Beberapa bulan terakhir, jorong Sikabu-Kabu, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang mendadak ramai. Tidak hanya ramai di jagad maya juga di dunia nyata. Mulai saja tagelek luhua hingga menjelang magrib, ada saja kendaraan yang mudik. Dan ketika penanda magrib ditabuh baru mereka hilir. Kendaraan-kendaraan itu, tampaknya berasal dari luar nagari Sikabu-kabu. Hal itu, tidak saja terlihat dari plat nomor kendaraan mereka. Namun, karena memang masyarakat hapal betul mana orang luar dan mana warga masyarakatnya.

Tidak hanya kendaraan roda dua, juga tak sedikit pula kendaraan roda empat. Pada kendaraan roda dua, tampak didominasi oleh usia muda dan mudi. Mereka, ada yang datang beriringan dengan komplotannya, juga ada yang berboncengan dengan pasangannya. Sementara, kendaraan roda empat tampak seperti sebuah keluarga. Bisa dilihat saja dengan jelas dari jendela mobil mereka yang kacanya sengaja diturunkan.

Melihat orang ramai lewat di depan rumah, menjadi tontonan tersediri pula oleh masyarakat. Apalagi yang berboncengan begitu mesra. Istilahnya, lari honda e 40 km, pocik e 180 km. Bagi masyarakat, itu menjadi bahan tertawaan mereka tatkala menunggu magrib. Tetapi, kiranya keramaian itu selalu berulang keesokan harinya. Setelah beberapa lama, akhirnya masyarakat penasaran juga. Pada kemanakah anak-anak muda itu? Seperti halnya masyarakat banyak, saya juga diliputi rasa penasaran yang tak kalah keponya.

foto Ilfa Ciang

Awalnya saya menduga, mereka akan menuju Kayu Kolek. Sebuah destinasi wisata baru di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, yang kebetulan loksasinya ada di jorong Sikabu-Kabu. Yang sejak awal dibuka memang cukup viral di dunia maya. Tetapi rupanya tidak. Ada apa gerangan, semua orang masih bertanya-tanya.

Namun, setelah beberapa hari, rasa penasaran saya dan beberapa masyarakat terjawab juga. Ternyata, selain Kayu Kolek, ada satu lagi kunjungan baru ke nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang yang juga sedang viral-viralnya di media sosial. Yaitu, Sawah Lenggek Sikabu. Namun, apa itu Sawah Lenggek, dan dimana itu Sawah Lenggek Sikabu, bahkan masyarakatnya sendiri tidak mengetahui perihal nama itu. Begitulah ironisnya dunia maya ini, yang jauh terasa dekat, dan yang dekat terasa asing karenanya.

Bermula dari salah satu pengunjung yang sering datang ke sebuah warung bakso. Warung bakso yang ada di pinggir jalan lingkar jika hendak menuju wisata Kayu Kolek. Di depan warung tersebut, sejauh matanya memandang ke arah bawah terlihat sawah yang bertingkat-tingkat. Agaknya, bagi masyarakat tidak ada yang istimewa dari pemandangan tersebut. Barangkali karena setiap hari pemandangannya hanya serupa itu saja. Namun tidak bagi pengunjung tersebut. Barangkali ada sesuatu yang indah yang tidak biasa baginya.

foto Irwan BL

Yaitu, sebuah pemandangan yang terang telanjang dari ketinggian bukit di kaki Gunung Sago. Di bawahnya, sawah yang menghampar tampak bertingkat-tingkat ke arah hilirnya. Menariknya, jika tiba musim panen, sawah itu sama-sama menguning dari atas hingga bawah. Jika datang pula musim tanam, maka akan terlihat menghijau pula dari puncak hingga ke lembah terendahnya. Barangkali pemiliknya sengaja menyamakan musim tanam, sehingga sama pula masa panennya.

Sementara itu, di paling ujung mata memandang, jika hari sedang cerah-cerahnya, akan tersumbul dengan jelas ranumnya “puting” Gunung Bungsu yang menyeruak di balik awan. Yang kesemuanya itu, jika dicekrek bagaimanapun, dan ditambahkan sedikit preset, maka dijamin selama seminggu kau hanya ingin mengunggah foto itu saja di 127 akun media sosial milik kamu. Dan tidak lupa menandai akun-akun terkait landscape alam. Pendeknya, kamu seperti punya kebanggan tersendiri melihat foto-fotomu sendiri.

Dari situlah kemudian, pengunjung tadi membuatkan sebuah akun media sosial dengan nama Sawah Lenggek Sikabu. Sebagaimana media sosial tentu difollow, dilike, lalu dibagi-bagikan. Maka jadilah Sawah Lengggek Sikabu yang kemudian dicari-cari oleh pemburu gambar selfie maupun welfie.

Tetapi, rupanya bermedia sosial di Sawah Lenggek Sikabu ini tidak lain hanyalah bonus semata. Yang dicari pertama kalinya oleh orang-orang yang datang rupanya bukanlah itu semata. Yang menjadi auto fokusnya justru warung bakso di pinggir jalan itu tadi. Warung sederhana di tepi bukit. Adalah warung bakso Rosmena. Rosmena yang dulu pernah bekerja sebagai pramusaji di beberapa kedai makan dan minum di kota Payakumbuh. Kini, ia membuka sendiri warung miliknya. Warung yang awalnya hanya untuk sekedar membantu pendapatan tambahan suaminya.

Lama kelamaan, ia berfikir, kenapa tidak pengalaman yang ia dapat itu bisa dikembangkan. Seperti menu miso misalnya, tentu bisa ditambahkan varian-varian lainnya. Seperti bakso, tulang, dan juga bisa ditambahkan ceker. Kemudian untuk mienya pun bisa dipilih. Mau pakai supermi, indomie, atau yang sering dipakai orang yaitu bihun. Sementara itu untuk menu untuk minuman juga dipelajarinya. Mulai dari lemon tea, cappucino, kopi, susu jahe, teh, teh susu, teh tarik, hingga nutrisari. Yang kesemuanya itu bisa disruput dingin ataupun panas.

foto instagram pojokpayakumbuh

Rosmena sendiri sebenarnya tidak tahu menahu soal viralnya warung baksonya. Katanya, awalnya hanya warung biasa. Tempat sebagian masyarakat menunda lapar dengan memesan mie rebus, soto, juga mie goreng. Atau sekedar tempat ngopi dan ngeteh anak-anak muda sambil gitaran. Baru pada tahun kemaren ia memberanikan diri untuk menambah menu miso dan bakso. Dan, semenjak pandemi, ketika jualan sedang lesu-lesunya, ia meminta tolong kepada mamaknya yang kebetulan tukang bangunan untuk membuatkan pondok-pondok di depan warungnya. Pondok yang dibangun menghadap ke deretan sawah-sawah. Sementara di kiri dan kanannya dijejerkan bangku panjang yang juga mengantar mata untuk melihat hamparan sawah. Barangkali dengan pondok tersebut akan membuat orang bertah berlama-lama di warungnya.

Bagi orang-orang, yang hendak berwisata ke Kayu Kolek dan bila sudah merasa sedikit lapar tentu bisa singgah ke warungnya. Dan apabila menyengaja datang ke warungnya, menjelang sore bisa pula mampir untuk sekedar berfoto di Kayu Kolek. Karena, jika hari terang, bisalah dapat bonus melihat kota Payakumbuh dari kejauhan. Kayu Kolek dan warungnya bisa saling menopang. Sesederhana itu Rosmena memikirkannya.

Seperti yang dibayangkannya, siapa sangka, warungnya yang sederhana itu akhirnya mampu mendatangkan banyak orang. Orang yang entah dari mana saja. Makin hari makin ramai saja. Hingga ia mulai keteteran untuk melayani orang-orang yang berdatangan. Belum lagi memikirkan tempat untuk parkir. Agaknya, pondok yang dibuatkan oleh mamaknya itu mampu menjadi kunjungan alternatif untuk menarik orang untuk datang ke nagari Sikabu-Kabu Tajung Haro Padang Panjang.

Satu hal yang kemudian diharapkan oleh Rosmena. Bagaimana kemudian masyarakat, atau setidaknya pemuda Sikabu-Kabu bisa pula memanfaatkan keramaian di warungnya. Apa kemudian yang bisa dimanfaatkan tentu bisa dibicarakan. Selama bisa saling menguntungkan kenapa tidak.

Tinggalkan Balasan