Pacu terbang itik: yang selama ini lucut dari amatan gelanggang

Oleh: Roni Keron

 

“Pacu Itiak kemaren itu terasa seperti pacu itiak puluhan tahun silam,” kata Datuk Panjang.

Lelaki berusia70 tahun lebih itu seperti terlempar kembali ke masa lalunya, kembali ke masa mudanya. Terlintas dalam ingatannya ketika pacu itiak dihelat, orang-orang kampung bakal meninggalkan rumah mereka. Jika ingin mencari seseorang maka datang saja ke galanggang. Karena memang hampir semua orang akan berada di galanggang.Jika saja ada yang berniat jahat, untuk maling maka mereka pasti bisa melakukannya dengan leluasa. Rumah-rumah yang kosong ditinggal penghuninya  yang tenggelam dalam keriuhan galanggang.

Hari ini, gambaran keriuhan gelanggang yang melesat dalam memori Datuak Panjang itu kembali dirasakan. Gelanggang itu berada di tengah-tengah kampung di jorong Lakuak Dama nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang (SITAPA). Sebuah kawasan yang menjadi tempat bertemunya segenap anak nagari saban hari.

Gelanggang yang menjadi titik komunal warga itu terhampar tanah lapang. Ada berupa lapangan voli yang kadang bisa saja berubah menjadi lapangan futsal, bahkan lapangan sepak takraw. Di sampingnya, sebuah panggung kecil berdiri tempat para pemuda menggelar acara-acara khas anak muda. Pada sudut yang lain sebuah bangunan persegi panjang, sebuah balai tempat masyarakat menggelar rapat dan pertemuan-pertemuan.

Anak-anak nagari Sitapa kemudian menggubah lapangan voli itu. Sejumlah payung dipasang. Payung yang biasa dijadikan orang-orang di pasar tradisional untuk berjual beli. Selain untuk properti artistik, payung-payung tersebut digunakan sebagai pengganti tenda. Di sekeliling lapangan voli, di jaring kawatnya diikatkan beberapa olang-olang godang atau layangan besar dengan ukurannya mencapai 2 sampai 3 meter. Kemudian, panggung kecil di samping lapangan diberi properti bambu-bambu yang melancip ke atas.

Di antara bambu-bambu tersebut direntang kain putih. Sementara itu, di balai pertemuan, ruangan yang cukup besar itu didekor menjadi ruang pameran karya. Baik itu karya-katya lukisan dan foto-foto, juga sekaligus tempat memajang produk-produk UMKM milik masyarakat. Di depan balai pertemuan, didirikan pula lapak-lapak sederhana beratap jerami. Lapak ini sebagai tempat berjual beli untuk masyarakat selama kegiatan. Jika dilihat dari udara, penggunaan serta penataan propert dekorasinya, serta juga atraksi budayanya, hendak membayangkan satu perayaan kebudayaan pada masyarakat agraris.

Di sepanjang jalan utama, digelar pula pacu terbang itiak. Sebuah permainan ikonik bagi anak nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Perayaan budaya itu, Alek Budaya Nagari Sitapa, digelar dua hari dua malam. Mulai dari tanggal 27 dan 28 November 2021. Selama itu pula kawasan di tengah kampung tersebut riuh oleh masyarakat yang memang tidak ingin melewatkan peristiwa demi peristiwa budaya yang telah disusun sedemikian rupa. Salah satunya atraksi budaya masyarakat agraris yang sudah dimulai sejak 1920-an.

Pacu Itiak

Sebagai area pacu itiak, dari pagi hingga jam 4 sore jalanan utama tak pernah sepi penonton. Itiak-itiak terus berpacu, serta pemiliknya tak berhenti “membebek” dalam setiap race pacuan. Baik itu jarak pendek 800 meter hingga jarak panjang 1600 meter. Tiap sebentar ada saja yang bersorak setelah para juri mengumumkan pemenang di toa pengeras suara. Tentu suara “janang” di toa menjadi bunyi yang selalu ditunggu-tunggu. Karena tiap sebentar nama mereka akan selalu disebut-sebut.

Sementara itu, tak kalah serunya, di depan panggung di bawah payung-payung, terdengar pula pekik ibu-ibu PKK yang juga tengah berpacu itik.”Pekik” yang tak dapat ditampik. Mereka berpacu kepandaian menciptakan kuliner yang bahan dan menunya berkaitan dengan itik. Itiak lado ijau (itik cabe hijau) olahan dari daging itik, te talua (teh telur), pindang talua dan sarikayo. Ragam kuliner khas nagari yang dibuat menggunakan telur itik.

Pada malam hari, masyarakat bisa menyaksiakan film-film berkekuatan tradisi dari sineas muda Sumatera Barat. Tak hanya film, ada pula pertunjukan tari, musik, dan juga sandiwara, hingga ditutup dengan pertunjukan randai. Semua menu perhelatan itu, mampu menahan penonton hingga larut malam.

Lain hari pertama, lain pula di hari kedua. Kegiatan pagi itu dimulai dengan arak-arakan budaya. Setiap tamu yang diundang, serta handai taulan yang dipanggil akan diarak dengan bunyi-bunyian. Biasanya, masyarakat menyebut peristiwa ini dengan arak iriang. Datuk Panjang berada di baris paling depan. ada di dalamnya.

Pada perisitwa ini, tampak dari kejauhan satu rombongan berjalan menuju lokasi acara. Rombongan itu terdiri dari para tamu undangan, ninik mamak, serta beberapa orang berpakaian pendekar sambil mengapit itiak di ketiak mereka. Rombongan ini diiringi oleh satu buah ansambel  Talempong Pacik. Biasanya, rombongan yang datang ini akan disebut dengan Si Alek.

Sementara di depan gerbang lokasi acara, telah menanti pula satu rombongan. Rombongan tersebut juga terdiri dari ninik mamak, pembawa carano. Juga para pemuda yang menggendong itik di ketiak masing-masing. Rombongan ini pun biasa disebut dengan Si Pokok Pangkalan.Setelah agak dekat, rombongan Si Pokok Pangkalan ­mulai membuka kata. Ia menuturkan kata-kata adat. Ia berpetatah petitih. Berandai-andai bermisal, begitu panjang. Rombongan Si Alek membalas dengan sedikit cemas. Ia juga berpetatah petitih. Berandai-andai beribarat. Dalam tutur adat, ia menyampaikan maksud kedatangan. Meminta kerelaan izin untuk ingin bermain-main di gelanggang yang sedang dihelat Si Pokok Pangkalan.

Musik Talempong ditingkah. Pesilat mulai mengambil langkah. Dan dalam gerak para penari memberi sembah. Gelanggang kembali dibuka, di jalan kembali para pecandu itiak bersuka cita. Hingga larut malam, pertunjukan demi pertunjukan kembali ditata.

Barangkali, Datuk Panjang melihat kemeriahannya dari ramainya pengunjung. Tentu saja lebih ramai, karena item kegiatannya tidak hanya pacu itiak seperti biasa. Tetapi ada konten lain yang memang sengaja dihadirkan sebagai bentuk pengembangan dari pacuan-pacuan sebelumnya.Seperti pertunjukan memasak kuliner dari olahan itiak. Permainan olang-olang godang (layang-layang besar), pertunjukan kesenian, pameran UMKM milik masyarakat Sitapa, pemutaran film, serta arak iriang dan alua pasambahan.

Pada demo memasak, diperagakanlah bagaimana prosesi memasak itiak lado ijau (itik cabe hijau), te tolua (teh telur), sarikayo, dan juga pindang tolua itiak (pindang telur itik). Melalui kegiatan ini, anak nagari memang hendak mendorong nagari Sitapa sebagai satu sentra yang memproduksi itiak. Baik itu sebagai pembibitan, petelur, pedaging, serta turunan-turunannya yang lain. Sebuah proses dari ujung hingga ke panggkal.

Untuk itu, kelompok-kelompok masyarakat dari 6 jorong yang ada dipanggil untuk ikut berlomba-lomba mempertunjukkan kegemaran mereka mengolah kuliner. Tak tanggung-tanggung, masak memasak ini diikuti oleh 8 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Mereka akan mempertunjukkan prosesi dari hulu hingga hilir. Itiak lado ijau misalnya, bagaimana proses memasak dari awal sampai akhir. Mulai dari membantai itiak, merebus, mencabut bulu, mencincang, mencampur bumbu, hingga teknik-teknik masing-masing kelompok mengacau di kancah. Begitu juga membuat te tolua, Sarikayo, dan pindang tolua itiak. Bagaimana pula cara mengocok, dan apapula campuran bumbu rahasia di masing-masing kelompok.

Dari pematang turun ke gelanggang

Peristiwa yang dikontruksi oleh anak nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang itu adalah program pemajuan kebudayaan desa. Satu di antara banyak program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (KemendikbudRistek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Jika berbicara tentang memajukan kebudayaan dari desa, sesungguhnya anak nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang sudah memulai dari lama. Setidaknya sudah 4 atau 5 tahun lalu. Dengan kesadaran penuh, mereka mememulai dengan mengunjungi para pelaku budaya, mengumpulkan memori-memori serta cerita-cerita tentang budaya. Kemudian berupaya mencatatnya. Dari situ, dapatlah mereka sebentuk peta budaya. Dari peta tersebut, perlahan kemudian berupaya menjelajahinya, mengkonstruksi menjadi satu bangunan kebudayaan.

Salah satu yang sudah diupayakan adalah seni pertunjukan. Di nagari Sitapa ini, anak-anak nagari punya satu perhelatan seni pertunjukan. Sebuah festival pertunjukan milik warga. Legusa Festival, begitu mereka menamainya.Sebagaimana sebuah harapan, melalui program pemerintah ini, anak nagari hendak ingin mendorong satu lagi yang dianggap potensi. Yaitu Itik. Karena, itik bagi masyarakat nagari Sitapa merupakan hewan uanggas yang tidak hanya menjadi modal sosial saja, melainkan juga sekaligus sebagai modal kultural. Bagaimana kemudian potensi ini bisa dimanfaatkan secara ekonomis bagi banyak orang. Bagaimana membuatkan satu rantai rangkaian distribusi itik dengan ekosistimnya. Mendorong produksinya, melekatkan brandnya, lalu kemudian menciptakan pasarnya.

Untuk telur saja misalnya, bagaimana kemudian bisa didorong produksi setiap harinya. Bayangkan saja, nagari Sitapa yang terdiri dari 6 jorong, masing-masingnya membutuhkan setidaknya 100 sampai 150 telur setiap satu malam. Biasanya, telur-telur tersebut dijadikan minuman khas di lapau-lapau yang dipercaya meningkatkan vitalitas lelaki, menghangatkan romansa berumah tangga, atau untuk sekadar mengembalikan energi yang habis karena bekerja.

Selain itu, di banyak restoran-restoran keluarga juga banyak yang mengolah telur itik ini menjadi menu khasnya, sarikayo misalnya. Begitu pula dengan dagingnya. Lihat saja jajanan-jajanan malam pinggir jalan, tak sedikit menu bebek goreng yang ditawarkan.

Pembibitan itik-itik pacu juga menjadi daya tarik tersendiri. Itik adalah hewan yang diperlakukan layaknya anak ke dua. Mulai dari makanan, hingga perlakuan setiap harinya. Bagi mereka, itik adalah tuah yang akan selalu diperbincangkan. Bahkan hingga penyelenggaraan atraksi tahun depannya. Oleh karenanya, bagi para pecandu, satu ekor itik bisa saja ditukar guling dengan motor yang bahkan belum lunas cicilannya.

Dengan potensi yang begitu besar dan sangat mungkin terus dikembangkan, kedepannya, alek ini ingin terus dielaborasi oleh anak nagari. Setidaknya begitu komitmen dari anak-anak nagari yang terlibat dalam penyelenggaraannya. Begitupun pemerintahan nagari. Melihat antusiasme masyarakat, merasakan dampak ekonomi yang dirasakan selama perhelatan ini, pemerintah nagari juga optimis ingin menjadikan alek ini semacam pesta budaya di nagari.

Selama ini, nagari Sitapa digadang-gadang menjadi satu nagari kunjungan di Kabupaten Lima Puluh Kota. Namun, belum mempunyai satu “alat” yang bisa menjadi magnet. Yang mampu menarik  para wisatawan untuk betah berlama-lama tinggal di Sitapa. Agaknya, tepat benar jika alek ini akan menjadi semacam kalender wisata nagari ke depan. Inilah kiranya yang ingin dibaca sebagai sebuah pemanfaatan.

Sebagaimana yang dibayangkan oleh dirjen kebudayaan. Barangkali begitu pula yang kerap dibayangkan oleh Datuk Panjang. Sebagaimana itik-itik itu mempunyai sayap “elang”. Yaitu, sayap kecil yang tumbuh di atas sayap-sayap yang memanjang. Sayap itulah sebenarnya yang menjadikan itik-itik itu bisa terbang jauh. Maka, dengan sayap itu, anak nagari Tajnung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang ingin “menghalau” itik-itik tersebut dari pematang hingga terbang ke tengah-tengah gelanggang. Dengan begitu, ketika sudah sampai di gelanggang, tentu itik-itik ini bisa dimanfaatkan hingga tak ada yang terbuang. Mulai dari telur, daging, sayap hingga bulu-bulu yang bersilang pintang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan