Legusa Fest; Sebuah Lahan Bersama di Lereng Gunung Sago

Oleh: Roni Keron

Nagari (desa) Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, begitu nama yang tercatat dalam administrasi kementrian dalam negeri, sesuai pula dengan surat keputusan Bupati Lima Puluh Kota Nomor 171 Tahun 2009. Sebuah nagari yang melandai di kaki Gunung Sago, Kec. Luhak, Kab. Lima Puluh Kota. Jika datang dari arah kota Payakumbuh, terus saja mendaki ke arah selatan (Ampangan), di sebelah kirinya sebuah bukit gambut membesut. Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang ada di sebaliknya. Nagari tempat tumbuh berkembangnya lebih kurang 5.000 jiwa, yang dengan suka cita menggantungkan penghidupan pada lahan pertanian dan perkebunan yang lebih kurang 1.000 Ha luasnya.

gambaran nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang dari udara

Pada lahan itu pulalah anak nagari mencuatkan ekspresi-ekspresi kultural berupa kesenian. Mereka menyebutnya dengan Legusa Festival. Sebuah perayaan aktivitas kesenian anak nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Dimana, setiap jorong (dusun) yang ada didorong untuk membuat sebuah kelompok kesenian, kemudian berproses selama 3-4 bulan yang didampingi oleh seorang fasilotator. Hasil proses inilah yang kemudian dirayakan secara kolektif dengan semangat kegotong royongan, berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain, seolah sedang menabur benih kesenian di dalam masyarakat.

Menariknya, disamping sebagai pemain, mereka juga bertindak sebagai pengelola. Pengalaman-pengalaman keindahan masing-masing diluapkan ke dalam tata artistik. Sebuah kerja kolektif, namun dengan pikiran masing-masing. Sesuatu yang dirasa artistik menurut salah seorang, maka yang lain mengiyakan dengan bersama-sama, seraya membantu mewujudkannya.

Menariknya lagi, kegiatan ini juga menjadi kesibukan tersendiri bagi masyarakat lainnya. Ibu-ibu misalnya, mereka mau untuk sibuk membuatkan konsumsi, kopi dan penganan-penganan khas untuk para pekerja yang menyiapkan pementasan. Para pedagang, sejak sorenya sudah mengkapling tempat tertentu untuk menggelar dagangannya. Anak-anak berbedak tebal, orang-orang tua dengan sebo di kepala berkelumun dalam sarung, seolah tak mau tinggal diam, seolah mereka ingin menjadi bagian penting dalam perayaan itu.

Pertunjukan Legusa Fest pada tahun lalu

Tahun ini adalah tahun kedua penyelenggaraan. Setahun sudah perayaan kesenian ini digelar, hampir setahun itu pula pembicaraan mengenainya (baca:legusa) tidak putus-putusnya. Ada saja dari anak-anak yang lain yang ingin menceburkan diri mereka untuk berekspresi. Kenapa tidak, disetiap jorong yang ada telah memiliki sebuah kelompok kesenian. Carano Badantiang dari jorong Tanjung Haro Selatan (THS), Rantak Sadaram dari jorong Padang Panjang, Puti Indah Jalito dari jorong Bukik Kanduang, Sabai Nan Aluih dari jorong Tanjung Haro Utara, Puti Ambang Bulan dari jorong Sikabu-Kabu yang sudah ada sebelumnya, serta Santan Batapih dari jorong Lakuak Dama yang juga sudah ada sebelumnya.

Membumbun apa yang sudah tumbuh

Saya tidak akan lupa, dengan kebanggaan yang berlebih, saya selalu saja ingin bercerita, tentang peristiwa seni yang saya kerjakan bersama anak-anak nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang ini. Tak lain adalah nagari saya sendiri. Saya ingat betul, ketika pertama kali bertemu dan berkumpul bersama anak-anak nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, memprovokasi mereka dengan agitasi-agitasi seni. Dengan memulai semacam lokakarya, memetakan potensi kesenian nagari, lalu membayangkan di nagari ini semua masyarakat berkumpul merayakan aktivitas-aktivitas kesenian. Dimana setiap jorongnya di dorong mempunyai kelompok-kelompok kesenian, lalu dipentaskan di tengah-tengah masyarakat. Agaknya, gagasan tersebut cukup menarik bagi mereka. Maka, ketika keinginan dan semangat telah berada dalam frekuensi yang sama, ketika itu pula anak-anak nagari sepakat untuk bersama-sama membuka sebidang lahan baru di nagari, yaitu lahan yang kemudian akan diolah menjadi ladang kesenian di Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang.

Salah satu kesenian yang tampil pada tahun lalu

Kini, pada tahun 2019 ini, dengan semangat yang sedikit menambah dari tahun lalu, anak nagari yang kemudian menggabungkan diri dalam satu komunitas, yaitu komunitas Legusa. Sedini mungkin mereka kembali mempersiapkan bekal kesenian mereka, bekal yang tentu akan disiapkan untuk menyisiri alur demi alur ladang kesenian mereka. Dengan senang hati, kini mereka mulai melihat kecambah demi kecambah aktivitas kesenian mulai tumbuh, setidaknya dari apa yang telah mereka tabur di tahun lalu.

Carano Badantiang dari jorong Tanjung Haro Selatan, dan Puti Indah Jalito dari jorong Bukik Kanduang misalnya, para remaja ini tak puas dengan hanya berlatih memainkan instrumen musik tradisi. Ditahun ini, mereka juga menambah kepandaian mereka dengan berdendang. Sebelum proses latihan dimulai, para remaja ini akan manyuduik di kejauhan, sambil mendekatkan handphone masing-masing ke telinga. Dengan seksama mereka menirukan teknik-teknik vokal yang manggarinyiak di tenggorokan mereka. Lalu, dengan malu-malu mereka mencobanya.

Lain pula dengan jorong Padang Panjang, tahun ini digantikan oleh generasi yang lebih baru. Pada tahun lalu uda-uda mereka telah menginisiasi sebuah grup yang dinamai Rantak Sadaram, meskipun dengan semangat yang hangat-hangat tai ayam. Namun kini dengan semangat yang lebih menghentak, remaja-remaja ini sepakat untuk menantang diri mereka dari anggapan-anggapan keliru berupa ketidakpercayaan pada diri sendiri. Kekeliruan yang saya kira nyata adanya setelah mereka menyadari kemampuan mereka untuk membuat karya. Mereka berproses menciptakan bunyi demi bunyi, melodi satu ke melodi berikutnya, pukulan satu ke pukulan lainnya. Mengompos perbiramanya, menyusun secara kronologis, menceritakan kampung mereka melalui bunyi musik yang daram badaram.

Tak kalah gairah, Sabai Nan Aluih dari jorong Tanjung Haro Utara, meskipun ditahun ini agak keteteran mencari pengganti personil, karena personil yang lama tidak lagi bisa lagi latihan. Namun, tak disangka anggota yang baru begitu cepat menguasai pola demi pola, bunyi demi bunyi. Beberapa bulan lalu mereka adalah pemain-pemain yang begitu tegang memainkan instrumennya. Kini, remaja itu menjelma seorang arangger, begitu aluih perpaduan bunyi tradisi yang mereka garap dengan suara-suara popular.

Antusiasme masyarakat mengabadikan setiap pementasan

Sementara itu Puti Ambang Bulan jorong Sikabu-Kabu, tahun lalu cerita legenda Puti Ambang Bulan mereka presentasikan dalam komposisi bunyi. Komposisi yang terkesan monoton, dan kurang atraktif, agaknya membuat mereka kurang puas. Maka, pada  tahun ini mereka menggabungkannya dengan kelincahan-kelincahan gerak dan garik. Kelincahan yang sekiranya mampu mengusir dinginnya hawa pegunungan dan perbukitan. Perbukitan yang barangkali menjadi tempat tinggalnya Puti cantik Ambang Bulan.

Menyisik yang belum bertunas

Tak ada keinginan yang selalu berjalan mulus, terutama dari apa yang ingin dicapai pada tahun kedua ini. Pada tahun pertama, sebagaimana langkah awal yaitu mendorong masing-masing jorong untuk membentuk satu kelompok kesenian, katakanlah itu kelompok musik atau kelompok tari. Maka untuk tahun kedua ini sedapat mungkin sudah bisa pula mendorong salah seorang dari masing-masing kelompok tersebut untuk menjadi komposer atau koreografer. Sehingga anak-anak dari nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang bisa pula menceburkan diri, menyumbangkan pengalaman mereka untuk pemajuan kebudayaan daerah, atau bahkan Nasional.

Namun, inilah kiranya yang menjadi buah pandangan bersama. Meskipun apa yang hendak ditanam pada tahap kedua ini belum menampakkan tunasnya, paling tidak apa yang sudah di tabur itu bisa selalu disisik dengan bibit-bibit baru. Dengan begitu, tentu selalu saja ada yang akan dipanen setiap waktu.

Tinggalkan Balasan