Kue Sopik Obik

Oleh: Roni Keron

Kurang lebih sudah setahun lebih saya bertetangga dengan Mak Bidar alias Obik. Setidaknya sejak saya tinggal di rumah mertua, di jorong Sikabu-Kabu, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kec. Luak, Kab. Lima Puluh Kota. Rumah kami begitu dekat (maksud saya rumah mertua), berlancik-lancikan, begitu istilah orang Minang. Ujung dapur rumah Obik berada begitu dekat dengan halaman depan rumah mertua saya. Jika hujan agak deras, maka air tuturan atap dapur rumah Obik akan sampai di sudut halaman rumah mertua saya. Saking dekat jaraknya, mertua saya hapal betul apa yang dimasak Obik hanya dari mendengar bunyi klentang klentong sendok penggorengan yang beradu dengan wajan memasak Obik. “Hmmm, Obik lah mamasak randang pulo,” (Obik sedang memasak Rendang pula) kata mertua saya pada satu ketika.

Saya kira juga iya, saya ingat betul ketika bulan puasa kemaren, ketika perut sedang lapar-laparnya, tiba-tiba ada saja aroma yang diantarkan oleh angin dari dapur Obik. Jika sudah begitu, saya mulai main tebak-tebakan dengan istri saya. “A kok iyo nan dimasak Obik?” (apa coba yang dimasak Obik) tanya saya. “Kalau aroma mode iko, pasti kue Sopik,” (kalau aroma seperti ini pasti kue Sopik) tebak istri saya dengan mantap.

Tepat sekali, istri saya juga sudah hapal betul dengan aroma serupa itu. Kenapa tidak, hampir selama puasa Ramadhan kemaren, aroma santan dicampur vanillie dan gula, yang kemudian diaduk dengan tepung beras itu selalu menyeruak dari ventilasi dapur Obik. Oleh angin, aroma tersebut diantarkan langsung ke pintu rumah. Terasa benar gurihnya di mulut saya yang semakin berbusa. Akibatnya, saya selalu merasa penasaran karenanya, diuji betul rasanya iman berpuasa saya.

Ternyata, tidak hanya saat Ramadhan dan lebaran saja. Di hari alang pun Obik tetap berproduksi. Sudah lama saya ingin melihat dan mendokumentasikannya. Siang itu, rasa penasaran saya terobati. Ketika aroma serupa kembali menyeruak, saya dan istri sesegera mungkin melihatnya langsung ke dapur Obik. Terang saja, di dalam rumahnya, tampak beberapa tungkus kue dalam plastik bergelantungan. Plastik-plastik itu berisi kue Sopik dengan berbagai bentuk. Ada yang lipatanannya serupa daun, serupa bunga, juga ada serupa gulungan dahan. Plastik-plastik tersebut sudah siap untuk dipasarkan. Sementara, di dapur, tinggal satu teko adonan lagi. Kami langsung menuju dapur. Aromanya semakin menusuk hidung. Tanpa ditawari, saya langsung mengambil satu, benar sekali, kue sebentuk lipatan daun itu benar-benar gurih, berderuk renyah di tiap-tiap lembarnya. Tak cukup satu, saya mengambil sebuah lagi.

Lalu, dengan seksama saya menyaksikan laku Obik. Ia tampak sibuk membolak-balik beberapa buah cetakan yang dipanggang di atas kompor gas. Yang sudah dirasa matang dengan cepatnya tangan Obik melipatnya, dengan cepat pula dimasukkan ke dalam belek. Cetakan yang kosong diisi lagi dengan adonan, lalu dibolak balik lagi bergantian. Tampak sekali kelihaian tangan Obik. Obik tahu betul kapan waktunya membolak baliknya, kapan pula waktu mengangkatnya. Meskipun tanpa penghitung waktu guna menentukan lamanya durasi pemanggangan.

“Sudah 35 tahun lebih Amak membuat kue Sopik ini,” kata Obik seperti menjawab, padahal saya belum bertanya. “Awalnya, Amak belajar dari orang tua,” lanjut Obik. Ia terus saja membolak balik cetakan, mengangkat yang sudah matang. “Sekarang gampang sekali, kita tinggal membeli tepung di warung. Dulu, kami harus menumbuk beras dulu dengan menumpang di rumah saudara yang mempunyai alu,” kenang Obik. “Dulu kami bisa membuat agak banyak. Mungkin saat itu karena usia masih muda,” kenangnya lagi. “Tentu saja karena masih sanggup duduk berlama-lama di depan kompor,” ia sedikit tertawa.

Saya kira, tidak hanya Obik saja yang pandai membuat kue ini. Ibu-ibu di setiap rumah, setidaknya di nagari Sikabu-Kabu ini saya kira bisa pula membuatnya. Akan tetapi, barangkali hanya Obik yang tetap memproduksinya saban hari. Meskipun kini, sudah lebih 70 tahun usianya, umur yang tidak lagi tahan untuk duduk berlama-lama. Namun, Obik pun masih bersentuhan dengan kue Sopik ini. “Setidaknya 200 sampai 250 buah ada saja yang memesan buatan Obik ini,” kata mertua saya pula.

Saya kira iya pula, keesokan harinya, saya melihat Obik lewat di depan rumah mertua saya, sambil membawa 4 tungkus plastik kue Sopik. “Koma bao Bik?” (kemana mau dibawa) dari balik kaca jendela saya menyapa. “Nyak ka rumah Kak Suarni,” (ini ke rumah kakak Suarni) jawab Obik seraya mengangkat tungkusan plastik. Lalu dengan cepat ia mencilin di depan rumah saya, eh rumah mertua maksud saya.

Saran saya, jika anda juga penasaran seperti saya, silahkan coba memesannya. Anda bisa datang langsung ke jorong Sikabu-Kabu, tanyakan saja dimana rumah Obik. Ketika sudah bertemu, langsung saja order. Semoga Obik bisa membuatkan sesuai jumlah yang anda inginkan.

Tinggalkan Balasan