Kompang; hal baru yang menantang

Oleh: Roni Keron

Bunyi kompang berdentang-dentang tak karuan ketika saya melihat proses kelompok musik Rantak Sadaram dari jorong Padang Panjang. Entah mana bunyi dum, entah mana pukulan tang, entah mana pula suara pak, hanya cakram logam yang gerincingnya begitu nyaring ketika pukulan-pukulan mereka saling bertanding satu sama lain.

Pada minggu sebelumya, dipertemuan awal, untuk pertama kalinya mereka diperkenalkan oleh Zharif, fasilitator mereka dari kota Padangpanjang dengan alat musik pukul yang berkembang di tanah Melayu itu. Ketika ditanya apakah mereka pernah memainkan instrumen tersebut? Mereka hanya saling pandang. Jangankan memainkannya, mendengar nama kompang saja mereka baru kali pertama. Ketika mencoba pertama kalinya, dengan sedikit gumam mereka mendengungkan syair-syair Islami. Memang, dari bunyinya, mereka mengira itu adalah rebana, sebuah instrumen perkusi Timur Tengah yang dimainkan dengan nyanyian-nyanyian Islami.

Oleh Zharif, pada pertemuan awal itu diberikan pula semacam pengantar materi, berupa pengenalan warna bunyi instrumen. Untuk instrumen perkusi dengan bahan kayu dan kulit, tentu saja warna bunyi menjadi penting. Karena, kekuatan utama dari instrumen serupa itu bukanlah dari nada-nada. Melainkan dari pukulan-pukulan permukaan kulit dengan ragam warna bunyinya.

Mengamati prosesnya, tiap sebentar saya melihat raut muka yang putus asa di antara mereka. Kenapa tidak, baru dua atau tiga kali pukul, mereka sudah meniup-niup telapak tangan mereka. Dipukul lagi dua atau tiga kali, selang setelahnya mereka mengibas-ngibaskan telapak tangan. Belum lagi, beberapa masyarakat yang komplain dengan bunyi-bunyi yang tidak karuan itu. Si anu sakitlah, si itu ada anak kecil lah. Terasa pula begitu besar tantangan belajar kesenian mereka.

Mengingat tantangan itu, awalnya, saya menduga proses Uncup, Unji, Ilham dan kawan-kawannya ini tak akan berlangsung lama. Saya mengira mereka akan berhenti di tengah-tengah perjalanan proses. Lihat saja, satu persatu, kawan-kawan mereka mulai meninggalkan proses. Setiap kali diajak orang baru, setelah dicoba prosesnya, maka pada minggu besoknya mereka tidak lagi datang.

Setidaknya, ada 20 orang lebih yang ingin ikut berproses bersama Rantak Sadaram. Namun, setelah terseleksi bersama alam, kini tinggal hanya 7 orang. Saya kira memang begitu, dalam hal apapun, orang yang mau bergerak memang banyak, tapi yang punya kemauan banyak hanya sedikit. Dari yang sedikit itu saya justru saya melihat proses yang sebenarnya. Mereka mulai menyudut, mencoba menuntaskan apa yang menjadi tugas mereka. Bunyi-bunyi mulai dicerna, mengulang-ngulangnya, hingga telapak tangan mulai mengeras mengebas.

Dari mereka yang tersisa itu, agaknya dugaan awal saya salah bin keliru. Dari anak-anak ini, saya jadi tahu satu hal. Barangkali, kesenian bukanlah soal-soal yang gigantis, kesenian adalah bagaimana seorang manusia mampu menjinakkan disiplin dirinya yang liar. Mereka yang mau belajar hal baru, menjadikan sesuatu yang baru sebagai sebuah pengalaman yang mesti disimpan dalam ingatan.

Maka, pada pertemuan selanjutnya mereka merasa perlu mencari tempat latihan yang jauh dari keramaian kampung. Biar mereka selesa pula mencari bunyi-bunyi yang lebih berwarna. Sebuah warung kosong di ekor kampung, di bale-bale yang sempit, di situ akhirnya mereka saling terkait. Benar adanya, dalam hitungan bulan, bunyi kompang sudah mulai enak didengar, pola-polanya, tingkah meningkahnya sudah mulai menjalari diri mereka.

Dari nyanyian-nyanyian Islami, indang Piaman, hingga pantun

Pada pergelaran tahun lalu, Rantak Sadaram menggarap sebuah karya yang berjudul Taruko. Sebuah karya yang menceritakan tentang salah satu tempat di jorong Padang Panjang yang biasa dijadikan anak muda-muda untuk menjemput serta menghabiskan senja hari. Tempat itu dinamakan dengan Taruko. Dari apa yang mereka lihat, mulai dari kebiasaan-kebiasaan setiap sore, sampai keadaan alam sekitar mereka catat untuk kemudian dijadikan lirik. Lalu, setelahnya dikemas dalam format musik berupa ansambel talempong, gendang tambua serta rabab darek. Sebuah proses kesenian yang sangat baru bagi mereka.

Tahun ini, mereka kembali berjumpa dengan hal baru lagi. Sebagaimana kesenian kompang, dimana mereka mesti memainkan alat musik sambil menyanyikan syair-syair Islami. Mereka tentu tidak hanya mempelajari alat musiknya, melainkan juga menghapal lirik-lirik Islami. Disamping itu, mereka juga harus banyak mendengarkan kesenian yang dekat dengan itu. Misalnya saja, rebana, barzanzi, solawat dulang, dikia robano. Akan tetapi, jika hendak melekatkan kepada sastra-sastra lisan Minangkabau, maka tentu turunannya mereka harus mempelajari lagi satu kesenian yang hampir mirip dengan itu. Yaitu Indang Piaman.

Seperti tahun lalu, untuk menyampaiakan apa yang hendak mereka suarakan, maka mereka akan membuat lirik-lirik sendiri, sesuai dengan apa yang mereka rasakan. Lirik-lirik itu rencananya akan dikemas dalam bentuk pantun-pantun berbahasa Minang. Pantun-pantun yang menyoroti fenomena-fenomena sosial di dekat mereka. Pantun-pantun yang akan dinyanyikan saling bertanya dan berjawab.

Tinggalkan Balasan