Jumaidil; ia yang sejak kecil bermain di taman bunyinya Firdaus

Oleh: Roni Keron

Setelah menghembuskan asap rokok yang menggelembung dari bagian terdalam paru-parunya, malam itu, Jumaidil ingin mencoba pula menarik sesuatu yang merangkak dari bagian terjauh ingatannya. Beberapa jenak ia tampak mematut-matut awang-awang. Dil, lalu bercerita. Ia, berasal dari nagari Sirukam, Kab. Solok, Sumatera Barat. Ia mengingat, ketika itu, belum genap 5 tahun usianya. Di usia orok itu, oleh Bapaknya, Firdaus, Dil selalu ingin didekatkannya dengan kegemarannya, yaitu bergelut dengan kesenian tradisi.

Untuk menghidupkan kegemarannya itu, Bapaknya, bersama orang di kampung tempat ia merantau, desa Singkarak, Kab. Solok, membentuk sebuah kelompok kesenian. Oleh orang di sana dinamakan dengan grup kesenian. Grup kesenian ini cukup aktif. Setidaknya, satu kali dalam sepekan ada saja orang yang meminta untuk berpentas. Apakah itu, pesta pernikahan, batagak pangulu, khitanan, ataupun seremonia-seremonial dari pemerintah daerah.

Sebenarnya tidak hanya Dil, Bapaknya selalu ingin membawa anaknya-anaknya ketika ada latihan ataupun tawaran-tawaran berpentas. Akan tetapi, hanya Dil yang mau untuk ikut. Dil juga heran, kenapa ia mau saja diajak bapaknya, walaupun lokasinya itu sangat jauh baginya. Sementara, kakak dan adiknya tidak pernah mau meskipun pementasannya di samping rumahnya. Entah apa yang menarik bagi Dil ketika itu. Padahal, sesampai di lokasi pementasan pun, sebentar ia akan terakuk-akuk di pangkuan Bapaknya. Ia akan terlelap di sela kulik-kulik instrumen bangsi yang ditiup Bapaknya.

Kebiasaan serupa itu terus dijalani Dil hingga memasuki sekolah dasar. Kebiasaan yang akhirnya memberikan Dil kekayaan bunyi-bunyi tradisi. Dil sudah begitu akrab dengan garinyiak dendang, garitiak instrumen tiup saluang, saua dan tingkah talempong pacik, saik rebab, dan banyak lagi. Bahkan tidak hanya bunyi, pun ketika itu Dil sudah dengan begitu leluasanya memperagakan kokohnya pitunggua kakinya. Sebuah sikap kaki yang menyangga badan seseorang ketika sedang bergerak untuk menari. Ya, hingga sekolah menengah pertama, Dil sudah piawai menari piring, dan maarak segala macam pawai dengan talempong pacik.

Namun, ketika melanjutkan pendidikan ke sekolah teknik menengah di kota Solok, aktivitas-aktivitasnya terkait dunia tradisi mulai berkurang. Akan tetapi, Dil punya mainan baru. Selain sibuk dengan jurusannya elektronik, ia pun mulai bermain-main dengan alat-alat musik elektronik, gitar elektrik. Ia mulai tergila-gila dengan alat musik barat tersebut. Bahkan ketika ia menyandangnya di atas bus kota antar provinsi, di depan kaca studio band, di panggung-panggung festival, ia langsung membayangkan dirinya serupa Dewa Bujana (gitaris band Gigi). Dewa Bujadil, mungkinkah nama itu cocok baginya?

Seusai sekolah, Dil tidak langsung memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Bersama bandnya, ia terus berproses. Ia mulai mengenal beberapa teknik permainan gitar, mulai dari fingering, mengenal tangga nada, dan apresiasi musik lainnya. Dil mulai banyak berkenalan dengan kawan-kawan dengan hobi yang sama. Hingga pada satu ketika, seorang teman mengajaknya mencoba mendaftar untuk berkuliah di kampus kesenian, di STSI Padangpanjang. Menurut temannya itu, di kampus itu, ada jurusan musik, yang barangkali bisa menambah pengalaman musik yang selama ini di dapat secara liar di jalanan.

Jumaidil Firdaus, gitar elektrik dan bunyi-bunyi tradisi yang unik

Seperti kebanyakan calon mahasiswa baru, mereka yang membayangkan bahwa kuliah di jurusan musik ke depannya bisa menjadi anak-anak band yang begitu gagah di atas panggung, dan begitu keren di bawah panggung. Barangkali juga promosinya seperti itu, akibatnya, Dil menjadi salah satu calon mahasiswa yang keliru membayangkannya. Ternyata, untuk masuk jurusan musik tidak cukup dengan bisa memainkan gitar elektrik saja, Dil juga harus bisa menangkap nada-nada, memainkan ritma-ritma, juga membaca not-not togenya.

Entah kenapa, Dil merasa tak yakin bisa diterima di jurusan itu, karenanya, Dil mendaftar pada pilihan ke duanya, yaitu Karawitan. Dari hasil tanya-tanya, ia mengetahui musik Karawitan adalah semacam musik-musik tradisi Minangkabau. Ia langsung mengingat, bukankah itu musik-musik yang sedari kecil sudah dimainkannya, bahkan juga musik-musik yang ikut membesarkannya. Maka, dengan mudahnya ia diterima begitu saja. Di kampus itu, di jurusan itu, Dil merasa mulai berkembang. Ia mulai mempelajari banyak hal tentang musik. Mulai dari mengenal banyak repertoar-repertoar musik tradisi Munangkabau, hingga berkenalan pula dengan ragam instrumen-instrumen musik tradisi.

Dil mulai berproses dengan itu semua. Ia mulai haus dengan ragam bunyi, pola dan ritma. Rasanya, yang di dapat di ruang kelas terasa kurang baginya, maka ia menambahnya dengan ikut berproses bersama angkatan di atasnya. Ia mulai diajak membuat musik, sebentuk komposisi, aransemen, hingga berproses dengan mahasiswa lintas jurusan. Ia mulai pula membuat musik-musik untuk film, teater, hingga musik-musik untuk iringan tari.

Setelah banyak pengalaman berproses dengan karya-karya orang lain, Dil mencoba pula untuk membuat sesuatu untuk dirinya. Jumaidil Firdaus Project. Sebuah proyek musik untuk dirinya sendiri. Proyek ini, merupakan upaya Dil untuk mengumpulkan kembali pengalaman-pengalaman musikalnya sejak dininabobokan oleh bangsi di pangkuan Bapaknya, hingga mengenal gitar dan efect bunyi yang dihasilkannya.

Dengan gitarnya, Dil menawarkan sebuah wacana, bagaimna bisa mentransformasikan teknik dalam memainkan instrumen-instrumen musik tradisi Minangkabau ke dalam instrument gitarnya. Dengan gitarnya pula, Dil seolah bisa menghadirkan teknik-teknik interlocking pada talempong pacik yang bertingkah-tingkah itu, garitiak pada saluang, saik pada rebab. Di tangan Dil, bunyi-bunyi tradisi tersebut tedengar begitu unik ketika berpadupadan dengan sentuhan efect-efect digital.

Agaknya, bagi Dil, dengan proyek ini, gitar menjadi sebuah kendaraan ulangalik untuk menjenguk bunyi-bunyi masa lalu, mempertemukannya dengan suara-suara hari ini, untuk kemudian didendangkannya di masa depan, di taman bunyinya, Firdaus.

2 tanggapan untuk “Jumaidil; ia yang sejak kecil bermain di taman bunyinya Firdaus

Tinggalkan Balasan