Dukungan kemanusiaan dan senyum manis Hazel

Oleh: Roni Keron

Hazel, anak gadis manis kita itu sudah bisa tersenyum. Setidaknya begitu yang tampak dari beberapa foto-foto terbarunya. Foto-foto yang disebar di grup WA keluarga dekat. Senyum yang begitu lebar. Selebar harapan kita semua untuk masa depan Hazel.

Hazel, anak kecil 5 tahun itu didiagnosa menderita kanker Retinoblastoma. Penyakit yang memang banyak menyerang anak-anak. Kanker mata ini terjadi saat sel-sel retina mata tumbuh cepat, tidak terkendali, dan merusak jaringan disekitarnya. Salah satu tanda Retinoblastoma adalah mata terlihat seperti “mata kucing” saat terkena sinar.

Pada usia 3 tahun, ada sebentuk bintik putih tumbuh di tengah bola mata kanan Hazel.  Awalnya, tentu orang tua tidak mengira bintik itu sebagai sebuah penyakit yang serius. Tetapi, lama kelamaan bintik putih itu terasa mengganggu Hazel. Bintik itu mulai mengganggu penglihatannya. Mata kanan Hazel terasa seperti ada embun. Sehingga apa yang dilihatnya tampak mengabur. Semakin lama semakin kabur. Tak ingin melihat anaknya selalu cemas,  orang tuanya memutuskan untuk membawa Hazel ke rumah sakit. Hazel di periksa di rumah sakit Achmad Darwis Suliki.

Di rumah sakit, ada dua kemungkinan penyakit yang diderita Hazel. Katarak atau kangker. Terang saja, kangker Hazel terasa semakin mengganas. Dalam beberapa bulan, mata Hazel terus berair, semakin hari semakin membengkak. Hingga retinanya tidak terlihat lagi. Mata Hazel tampak menonjol keluar.

Lika liku Hazel dan keluarganya

Dengan semakin parahnya keadaan Hazel, pihak Rumah Sakit Achmad Darwis Suliki merujuk Hazel ke Rumah Sakit M. Jamil Padang. Namun tentu yang menjadi persoalan utamanya adalah menyoal biaya pengobatan. Untuk itu, pihak pemerintah nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang mengusahakan untuk pembuatan BPJS. Tidak hanya itu, dari Baznas juga memberikan semacam santunan.

Namun, ternyata tidak selesai disitu saja. Hazel justru tersangkut dengan masalah prosedural administasi. Hazel berobat di masa Covid sedang naik-naiknya. Pendaftaran yang cukup rumit bagi Ayah Hazel, ditambah antrian yang begitu panjang. Sementara Hazel tidak punya tempat menginap di Padang. Dengan berat hati, Hazel, ibu, dan Ayahnya tepaksa menginap di ubin emperan Rumah Sakit.

Setelah mendapatkan giliran, masalah baru kembali mnimpa Hazel. Hasil swab Rumah Sakit menunjukkn bahwa Hazel terkonfirmasi positif korona. Mereka diminta untuk isolasi. Dan Ayahnya memutuskan untuk isolasi di kampung, Lima Puluh Kota. Dari kota Padang, Hazel dan kedua orang tuanya memutuskan pulang dengan ketidakberdayaan. Tak dapat dibayangkan bagaimana rasanya pulang dengan dada yang penuh sesak. Sesak, marah, yang entah kepada siapa. Rasa kekecewaan yang barangkali paling puncak dalam hidup mereka.

Rasa kecewa itu hanya bisa diurut-urut di dada. Rasa sakit Hazel tentu lebih penting. Setelah Hasil swab kembali negatif. Hazel kembali ke M. Jamil, Padang. Prosedur tentu harus tetap dijalankan, tidak ada privilese untuk orang seperti Hazel di Rumah Sakit. Antrian panjang tetap harus ditunggui. Sementaa, tempat menginap untuk sementara pun masih belum jelas.

Merasa semakin tidak jelas akan nasibnya, Ayah Hazel kembali memutuskan untuk pulang. Biar mata Hazel yang semakin membengkak itu dipasrahkan saja pada pengobatan-pengobatan herbal yang tidak banyak prosedural. Barangkali begitu yang dipikirkan oleh Ayah Hazel.

Dukungan kemanusiaan mengalir

Agaknya, apa yang di derita Hazel semakin  hari semakin parah. Pedihnya tidak dapat dibayangkan. Matanya selalu berair. Cairan campuran darah dan air di mata Hazel menetes tiap sebentar. Sementara, Ayah dan ibunya juga tak kalah pedih. Air mata mereka juga tak berhenti menetes. Tak hanya keluar, tetesannya juga jatuh ke dalam. Tak dapat akal lagi, apa yang bisa diupayakan untuk anak tercinta mereka, Hazel. Seperti mata kanan Hazel yang tidak lagi bisa melihat. Ayahnya juga tidak bisa melihat dari mana bisa didapatkan biaya untuk pengobatan Hazel.

Tentu hanya doa yang bisa dipanjatkan. Tak hanya keluarganya, barangkali orang sekampung ikut mendoakan kesembuhan Hazel. Tanpa dikomandoi, semua orang memposting flyer-flyer tentang Hazel. Hingga kemudian beberapa media menulis. Dari situ, barulah kemudian dukungan berdatangan dari luar.

Dari orang biasa, hingga anggota DPR ikut mengulurkan tangan untuk ksembuhan Hazl. Dari komunitas-komunitas pemuda, hingga dinas dan badan-badan kemanusiaan ikut memberikan donasi untuk Hazel. Karang taruna nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, misalnya. Baru kali ini rasanya ada pengumpulan donasi berkeliling kampung.  Pemkab juga turut ambil bagian. Untuk menembus birokrasi dan prosdural pengobatan, akhirnya ditempuh jalan birokrasi pula. Disinilah peran Pemkab untuk Hazel.

Kini Hazel sedang menunggu jadwal dioperasi. Ia sekarang menunggu dengan manis disalah satu rumah singgah di kota Padang. Ia harus menjalani dulu kemoterapi selama sebulan ke depan. Baru kemudian mata kanan Hazel diangkat.

Kemaren, gambar teerbaru Hazel dikirim di beberapa grup WhatsApp. Hazel memakin baju polkadot biru. Di tangannya gelang-gelang biru juga bergerincingan. Matanya terlihat sudah agak membaik. Bibirnya juga terbuka sedikit lebar. Ia tersenyum simpul. Barangkali hatinya juga sedang mengharu biru, ia ingin berterimakasih untuk rasa kemanusian yang mengalir deras untuknya.

 

Tinggalkan Balasan