Cabe Aria Warno agak besar panjang dan pedas, namun hasil panennya begitu manis

Oleh: Roni Keron

Sebagaimana dirinya yang enggan mengikuti keyakinan orang banyak. Maka, ia dengan mantap berdiri di arah yang berlawanan dengan orang yang banyak itu. Ialah Aria Warno, yang akarab dipanggil Nono. Ya, dialah yang selalu tegak dengan teguh di atas keyakinannya sendiri. Lihat saja, ketika semua orang mengatakan cabe itu pedas, dengan santainya ia mengatakan tidak. Jika kita basihampeh karena kepedasan, sementara ia tampak biasa-biasa saja. Alih-alih merasakan pedas, justru cabe terasa begitu manis olehnya. Kenapa tidak, karena cabelah ia bisa mendirikan rumah di atas tanah yang ia beli sendiri. Karena cabelah ia bisa mengendarai sepeda motor untuk mengantar jemput anaknya bersekolah. Pendeknya, cabelah yang membuat Nono kerap tersenyum optimis yang begitu sumringah sekarang.

Disuatu siang yang berkeringat di kedai kopi Kamek jorong Padang Panjang, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Akhirnya saya juga mendapat cipratan senyum sumringah itu. Ia memesan dua cangkir kopi. Kopi saset yang banyak gula siap seduh. Untuk dia satu, tentu untuk saya satu. Saya senang, ternyata saya tidak hanya kebagian senyum sumringah, semangat dan optimismenya pun juga ikut menjalar. Rasanya ada yang masuk ke pori-pori saya yang sejak tadi mengembang karena cuaca panas.

Sambil menyesap kopi di tadah, sebenarnya saya bermaksud hendak memulai obrolan tentang kopi dengannya. Apakah ia tidak ingin mencoba menanam kopi, sebagaimana menjamurnya kedai kopi hari ini, setidaknya di kota Payakumbuh dan Kab. Lima Puluh Kota. Namun, baru saja meletakkan tadah, dengan semangatnya ia malah bercerita tentang cabe. Bahkan saya belum bertanya. Agaknya cabe baginya tidak hanya sayuran yang membumbui makanan yang selalu tersimpan dalam songgan istrinya saja. Nampaknya, cabe telah serta merta membumbui hidupnya, sehingga dimanapun ia duduk selalu cabe yang menjadi buah obrolan.

Katanya, kini ia sedang giat-giatnya mendampingi kawan-kawannya dalam bertanam cabe. Tidak tanggung-tanggung, ada kisaran 20an orang yang ia dampingi. Tidak hanya di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, melainkan juga di kelurahan Sicincin Air Tabit. Dari banyak orang yang ia dampingi itu ada yang dari nol atau dari awal, juga ada dari pertengahan jalan. Mendengar ceritanya, saya kira memang sedang naik daun benar Nono ini. Menurutnya pula, kepercayaan kawan-kawan ini tentu tidak hanya karena capaiannya beberapa tahun terakhir. Tetapi juga karena gagasannya yang sederhana namun cukup nyeleneh, menanam cabe dengan biaya murah.

Memang benar adanya, jika kita dengar corah orang-orang di lapau, perkara cabe ini memang sedikit agak menggelikan. Kata mereka, untuk menanam cabe ini “sekolahnya” agak tinggi, dan biayanya juga mahal. Saya kira tidak hanya menggelikan, namun juga terkesan agak angkuh bin sombong. Sementara yang saya dengar dari cerita pengalaman Nono ini, tidak pula sebegitunya. Bahkan Nono bisa menanam cabe hanya dengang sepertiga modal orang-orang yang “bersekolah” tinggi tersebut.

Ketika saya tanya kenapa bisa, dengan percaya diri ia menjawab, “tentu saja bisa.” Tampaknya, selain punya alasan ekonomis, Ia juga puya alasan yang humanis. Yang terpenting, Ia tidak mau ikut-ikutan untuk menggunakan plastik. Modal plastik tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan pupuk dan racun jika cabenya diserang hama. Ketika saya tanya lagi kenapa tidak mau pakai plastik sementara hampir semua orang menggunakannya. Lalu ia menjawab dengan sedikit kelakar “mananam lado pakai plastik itu bagi den adolah caro urang pamaleh kapolak,” lalu ia tertawa. “baa pulo tu, awak ingin menumbuhkan tanaman tetapi indak samparono, indak masuak tu doh,” ia menyesap kopi lalu tertawa lagi.

Kesempurnaan baginya tidak lain adalah harus tau betul apa yang menjadi kebutuhan tanaman. Pertama, layaknya manusia yang akan tumbuh, tentu kita mesti sesering mungkin melihat perkembangannya. Namun, dari apa yang sering dilihatnya, banyak diantara kawan-kawan begitu percaya pada plastik. Seolah-olah dengan menggunakan plastik sudah bisa mengakomodir kebutuhan tumbuh kembang cabe. Seolah-olah sudah percaya betul pada plastik untuk kebertahanan cabe. Jadi mereka merasa tidak perlu untuk sesering mungkin melihat ladang.

Sementara, jika tidak pakai plastik tentu mengharuskan untuk sesering mungkin datang ke ladang. Guna memastikan apakah semua baik-baik saja. Misalnya, kalau sekiranya tanah kurang lembab, tentu harus disiram. Kalau sekiranya banyak kutu dan jamur tentu mesti diberi pestisidanya. Pendeknya, harus sesering mungkin, setiap waktu melihat perkembangan cabe.

Kedua soal pupuk. Jika menggunakan plastik tentu diawali dengan memberi pupuk di bumbun cabe. Setelah dipupuk biasanya menunggu hujan. Jika hujan tidak turun tentu disirami dengan air. Setelah dibasahi hujan atau disirami air kemudian bumbun dibungkus plastik. Nah, pupuk yang sudah tertutup itu tidak bisa kita takar apakah sudah sesuai kebutuhan cabe atau belum. Ini tentu terhitung dari awal mula menanam hingga sampai langkeh nanti. Sementara, jika ada penyakit yang datang kemudian, tentu harus dipupuk atau diracun lagi. Jika sudah begini, tentu cabe menjadi terlalu banyak makan pupuk dan racun. Hal tersebut bisa menumbuhkan penyakit baru. Karena mungkin saja cabe bisa overdsis. Sementara kalau tidak pakai plastik, tentu bisa dipantau apakah kekurangan atau kelebihan pupuk. Artinya, keseimbangan tanah, pupuk dan racun bisa diatur sesuai kebutuhan cabe.

Gagasan sederhana itulah sebenarnya yang membuat Nono banyak pengkikut sekarang. Di samping itu, jika ditarik ke belakang sebenarnya ia sudah berkenalan dengan cabe bahkan semenjak kecil. Ia masih mengingat dengan jelas, ketika itu usianya belum genap 6 tahun. Bagaimana dengan rajinnya ia menemani bapaknya bekerja di ladang cabe, tentunya cabe milik mereka. Hampir setiap hari ia berada di sana. Barangkali pengalaman masa kecil ini yang kemudian membuatnya betah bahkan nyaman di ladang cabe. Apalagi melihat cabe yang kemerah-merahan, katanya.


Dari pengalaman itu pula, di masa bersekolah di kelas SMP bahkan ia sudah punya ladang cabe sendiri. Ketika teman-teman seusianya yang lain menghabiskan waktu bermain, ia memilih menghabiskan waktu di ladangnya. Cabelah yang saban hari menemaninya. Hingga SMA sekalipun ia telah mampu menghidupi dirinya sendiri dengan bertanam cabe.

Cabe yang kemudian menjadikannya begitu mandiri. Barangkali, kemandirian itu pula yang kerap menjadikan ia begitu dekat dengan guru-gurunya. Dan, pernah satu ketika, kala itu, sedang putuh pantik, katanya. Ia tidak segan-segan meminjam uang kepada guru-gurunya. Pinjam pinjam minta lebih tepatnya. Dan, gurunya selalu dengan senang hati memberikan pinjaman. Meskipun tidak keberatan untuk tidak dibayar. Namun, dengan apa Nono mengganti kebaikan itu? Tentu dengan cabe hasil panennya.

Hingga selesai sekolah ia semakin mantap bertanam cabe. Tanpa bantuan dari siapapun, ia menggeluti betul kurenah tanaman cabe ini. Ia mulai mengenali apa yang menjadi kebutuhan tanaman cabe ini. Hingga mengenali ragam penyakit-penyakitnya. Melihat konsistensinya itu, ia diberi semacam apresiasi oleh kepala desa ketika itu. Ia diberi bantuan lepas berupa sapi. Tapi tentu harus melalui kelompok. Maka, ia mendirikan kelompok tani dan ia langsung sebagai ketuanya.

Hingga kini, telah hampir setengah abad usianya. Ia seolah tak bisa lari dari buah cabe ini. Tampaknya, ia akan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada cabe. Bisa jadi akan semakin banyak pula orang-orang yang meminta untuk didampingi oleh Nono. Bahkan tanpa pamrih, alias gratis, “telanjang” pula. Artinya, apa yang dipunyai olehnya diberikan semua pada kawan-kawannya. Kata sebagian teman-temannya pula, Nono ini curah benar. Jika ia punya 10 maka ia akan memberikan 11. Lalu, apa yang ia dapat? Tidak ada selain kepuasan untuk dirinya.

“Karena telah mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh pemerintah, rasanya tepat benar mulai hari ini Da Nono dipanggil bapak PPL sejati (Penyuluh Pertanian Lapangan),” kata saya menutup pembicaraan. Setelah menyesap kopi terakhirnya, ia menstater motornya, lalu tersenyum sumringah dan berlalu seraya membonceng anaknya. “Seperti kopi saset yang disesapnya ini, yang begitu banyak gulanya, barangkali cabe juga semanis ini baginya,” kata saya dalam hati.

Tinggalkan Balasan