Begawai Nusantara: mari bekerja untuk merekat kembali kenusantaraan

Begawai Nusantara, adalah sebuah jaringan kebudayaan yang mempunyai cita-cita menjalin kembali rajutan kebangsaan melalui sebuah festival. Jaringan ini, tersebar di beberapa kota antar pulau. Setidaknya, ada 13 festival yang tergabung dalam jaringan begawai Nusantara ini. Mulai dari ujung Sumatera, Jawa, dan pedalaman Kalimantan.

Mereka yang tergabung dalam jaringan Begawai Nusantara ini, kemudian saling mengunjungi, saling berbagi pengetahuan, mempelajari kearifan masing-masing, kemudian merayakan perbedaan-perbedaan melalui festival.

Bagi mereka, Festival dalam hal ini kesenian, menjadi semacam pintu masuk untuk menggugah “rasa” masyarakat. Bagaimana kemudian bisa mendorong masyarakat untuk bisa memetakan kembali modal-modal kultural, juga modal sosial yang mereka miliki, kemudian bisa menghelatnya bersama. Baik itu potensi seni, pengetahuan-pengetahuan tradisional,  permainan-permainan rakyat, wisata, dan lain sebagainya. Karena bagi mereka, kepentingan masyarakat banyak, adalah kekuatan utama festival mereka.

Tidak hanya berfestival, Begawai Nusantara ini juga menggelar serial-serial diskusi. Mereka meyakini bahwa festival yang dilakoni oleh masyarakat di desa-desa mampu memunculkan gagasan-gagasan yang semestinya bisa menjawab persoalan kontemporer keindonesiaan kita. Termasuk persoalan-persoalan intoleransi atas dasar keberagaman kebudayaan kita.

Terkait itu, sebagai bagian dari Begawai Nusantara, Ojak Manalu bercerita. Nusantara, sebagai sebuah kesatuan kultural, sudah sejak lama terbiasa dengan apa yang disebut dengan keberagamana. Keberagaman itu yang kemudian menandai masing-masing pendukung satu kebudayaan. Keberagaman itu pula yang sebenarnya memberikan kita sebuah pengertian yang begitu penting. Yaitu, sebuah penghargaan. Bagaimana bisa tetap menerima yang berlainan dengan pada kita. Katakanlah itu, cara hidup, cara bersukur, cara bertuhan, cara mengatur masyarakat, dan lain lain dan lain lain. Bagaimana mungkin kita bisa menyalahbenarkan orang lain dengan ukuran kebenaran dan kesalahan dari kita. Bagaimana pula mungkin kita mengukur orang lain dengan meteran-meteran prasangka yang kita punya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, namun, agaknya setelah nusantara itu diproklamirkan atas dasar kesatuan politik, perbedaan-perbedaan, keberagaman itu tidak dijadikan sebagai sebuah kekuatan bersama. Barangkali kesadaran berbeda beragam itu ada hanya ketika merasa satu nasib di bawah kuasa kolonialisme belaka. Benar, kekuatan politiklah yang ketika itu mampu mengumpulkan ragam kekuatan yang terpisah dan tersebar di wilayah-wilayah kebudayaan di nusantara ini. Namun setelahnya, politik pula lah yang mendorong pecahnya kembali perbedaan-perbedaan itu. Kita kemudian diseret-seret dalam istilah identitas. Kita serupa dihangat-hangatkan dengan perbedaan-perbedaan kesukuan. Kita seolah dipanas-panasi pula dengan perbedaan-perbedaan pandangan politik. Kita seakan-akan diobok-obok dalam perbedaan keyakinan.

Maka, dalam pada itu, Rumah Karya Indonesia (RKI)—salah satu jejaring Begawai Nusantara—mengajak kita semua untuk berbagi pengetahuan, memperluas jaringan, dan lebih penting adalah melawan praktek-praktek yang memecah belah keberagaman kita. Sebuah serial forum diskusi yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom selama 1 bulan.

Serial ini akan membahas, apa itu festival warga, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana dampaknya. Dengan harapannya, melalui forum diskusi ini bisa mengumpulkan gagasan-gagasan dari komunitas budaya, yang barangkali bisa disumbangkan untuk keindonesiaan kita. Baik itu dalam hal ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Seri pertama forum diskusi ini akan diadakahn pada hari kamis, tanggal 3 September, jam 15.30, dengan topik pembicaraa mengenal festival warga. Begawai Nusantara mengajak para pegiat festival warga untuk memperdengarkan apa yang telah mereka lakukan. Roni Keron dari nagari (desa) Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang panjang, Kec. Luak, kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Inisiator sekaligus kurator Legusa Fest, sebuah perayaan kesenian anak-anak nagari. Mendorong anak-anak nagari di 6 jorong (dusun) membuat kelompok kesenian, membuat berkarya bersama, lalu mementaskannya keliling kampung. Fafa Utami, kurator indonesiana, director program International Gamelan Festival, konsultan kreatif Festival Cerita dari Blora, producer & pimp produksi Solo Karnaval Boyong Kedhaton, pagelaran kolosal adeging kota Solo, Setan Jawa at ASIA TOPA Art Centre Melbourne. Serta dimoderatori oleh Hardiansyah Ay, inisiator sekaligus kurator Festival Panen Kopi, Gayo, kurator Jazz Panen Kopi, dan Lakbok World Music Festival.

Tinggalkan Balasan