Andes Satolari; dulu dan kini ia adalah bunyi yang terus berlari

Oleh: Roni Keron

Ketika liburan menaiki kelas tiga di Sekolah Teknik Menengah Taman Siswa kota Payakumbuh, Andes remaja berkesempatan berlibur ke tempat saudaranya di Jakarta, tepatnya di Cempaka Putih. Di kota yang hingar bingar, yang dalam pandangannya adalah kota yang sangat bebas, semua orang bercampur baur, hidup sendiri sendiri tanpa kepedulian. Akan tetapi, justru di tengah hiruk pikuk kota itulah didapatnya semacam kesadaran kultural. Pertama sekali pengalaman auditifnya dipengaruhi oleh bunyi-bunyian tradisi yang dirasanya sangat akrab dengan indra pendengarannya. Sebuah sanggar kesenian yang ia lupa namanya, begitu melewati sanggar tersebut ketika hendak menuju kedai saudaranya, ia sering mendengarkan bunyi-bunyi tersebut.

Rasa penasaran yang besar kemudian memberanikan dirinya untuk masuk ke pekarangan kesenian tersebut. Sembari menyibak-nyibak kelopak ingatan masa lalunya. Lalu, ia melihat orang memainkan talempong sambil berdiri di atas tatakannya, tak lama kemudian terdengar pula orang meniup bangsi. Ironisnya, ia mengetahui bahwa yang memainkan instumen musik yang ia dengar tadi bukanlah orang yang satu etnis dengannya.

Andes merasakan rasa bersahabat yang ditunjukkan orang-orang itu dengan membiarkannya memegang instrumen miliknya di sela-sela latihan rutin mereka. Beberapa jenak kemudian Andes ingin sesegera mungkin untuk pulang ke kampung. Muncul keinginan untuk bisa pula mempelajarinya setelah sampai di kampung. Meskipun pada saat itu di kampung sendiri sangat sulit ditemukan sanggar-sanggar atau kelompok-kelompok kesenian.

Andes Satolari dalam satu even di kota Payakumbuh

Begitulah Andes bercerita awal persinggungannya dengan dunia yang akhirnya menjadi pilihan hidupnya saat ini, yaitu pegiat kesenian.

Proses kreatif Si Bigau dari surau hingga ke rantau

Selang setahun setelahnya, Andes bertemu dengan Yudilfan Habib. Seorang pegiat seni dan budaya luak Limo Puluah yang juga berdomisili sama dengannya. Pak Habib, begitu ia memanggilnya, seorang yang menurut Andes memiliki banyak jaringan-jaringan kebudayaan. Disinilah bermula proses kreatif Andes menyelami dunia kesenian melalui biduk musik.

Andes tidak sendirian, ada sekitar enam orang yang terlibat dengannya. Mereka menamakan kelompok tersebut dengan Si Bigau. Dalam memori kolektif masyarakat tempat Andes tumbuh besar Si Bigau adalah semacam sosok gaib yang dipercaya sebagai pengemala babi-babi di hutan. Melalui proses ini mereka juga hendak mengembalakan kebabian yang barangkali ada dalam dirinya dan teman-temannya.

Sebagaimana proses-proses kreatif anak-anak Minangkabau pada dahulunya adalah surau, maka pak Habib juga menawarkan kepada Si Bigau ini untuk melakukan proses kreatif di surau. Sebagai satu bentuk manifestasi program kembali ke surau. Maka, mereka memilih surau Suluk Tobiang yang cukup terpencil di jorong Sikabu-Kabu sebagai basis untuk menimbun diri dengan pengalaman-pengalaman kultural musikal.

Sepanjang perjalanan musikalnya, Andes mengingat betul bagaimana pada suatu ketika ia dan kawan-kawannya oleh Pak Habib dipertemukan dengan Ucok Irmansyah. Seorang pensyair, performer, dengan kekuatan panggungnya idiom-idiom musikal Minangkabau. Katakanlah itu, dendang, gumam, lantunan-lantunan, vokabuler-vokabuler yang manggarinyiak. Pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan, bahkan yang terus mempengaruhi proses kreatif Andes hingga saat ini.

Andes Satolari tampi Legusa Festival 2018 bersama sanggar Puti Ambang Bulan

Saat itu, oleh Ucok Irmansyah diberikan dua buah puisi, bagaimana kemudian mengungkap bunyi yang tersimpan dalam puisi-puisi, kemudian ditafsirkan melalui instrumen musik, melalui gitar, gendang, maupun vokal. Andes dan kawan-kawannya menikmati betul proses serupa ini, meskipun cara proses yang baru bagi mereka. Mereka begitu asyik bersitungkin dengan instrumen masing-masing.

Sebelumnya, oleh Pak Habib, mereka diberi semacam etude berupa memainkan instrumen melodis dalam satu kord harmoni. Disini, mereka dituntut menemukan variasi-variasi ritma, ragam melodis. Tidak hanya itu, Andes dan teman-temannya juga dilatih memberikan ilustrasi  bunyi pada dedaunan yang jatuh berguguran dari ranting dan dahan. Pernah juga, mengolah vokal dibawah gemuruh air terjun. Metoda serupa itu agaknya sangat relevan dalam membunyikan puisi-puisi yang diberikan Ucok Irmansyah.

Dalam rentang waktu beberapa bulan saja, Si Bigau tidak hanya punya materi dari puisi, melainkan satu album karya komposisi yang tidak hanya berangkat dari fenomena-fenomena musikal, pun juga dari fenomena-fenomena non musikal. Karya tersebut antara lain, singkok, sobok, kopik, kusia bendi, shin hau, adakah, babi godang, jerami, buluih. Karya-karya itu pula yang membawanya ke banyak panggung-panggung pertunjukan kontemporer di tanah rantau.

Kembali ke tanah pangkal

Kini, Andes kembali mencoba mengingat kembali dan mengumpulkan pengalaman-pengalaman musikal yang pernah ada dalam ingatannya. Lalu, ia hendak berbagi dengan anak-anak nagarinya, nagari  Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Awalnya, ia menginisiasi sebuah sanggar kesenian di jorong Sikabu-Kabu, sanggar Puti Ambang Bulan. Kemudian, bersama anak nagari yang lain, ia mengajak karang taruna untuk memetakan potensi kesenian yang ada di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang.

Andes Satolari bersama anak-anak nagari sedang berdiskusi

Dari situ, mulailah mendorong anak nagari untuk membuat sebentuk kelompok kesenian di masing-masing jorongnya, masing-masing kelompok ditemani oleh seorang mentor, kemudian berlatih selama 3-4 bulan. Setelah materi dirasa rampung, maka mereka merayakannya secara bersama melalui kegiatan festival seni pertunjukan bersama masyarakatnya. Yaitu Legusa Festival.

Sudah tahun kedua penyelenggaraannya, ia melihat masyarakatnya begitu reaktif dengan pertunjukan-pertunjukan kesenian. Maka, dengan semangat yang menumpuk Andes dan kawan-kawannya ingin sekali mendorong nagarinya menjadi nagari seni pertunjukan. Nagari yang masyarakatnya dituntun oleh ragam pertunjukan kesenian yang mereka tonton. Yaitu nagari yang kelak akan dikunjungi oleh pertunjukan-pertunjukan kesenian hebat, baik teman-teman di Sumatera Barat, nasional, maupun internasional. Nagari tempat mengembalakan Bigau-Bigau kantau di hutan-hutan kebudayaan hari ini.

Tinggalkan Balasan