Alex Gondrong; Pengembaraan musikal anak band metal

Oleh: Roni Keron

Alex masih mengingat betul, ketika lepas sekolah menengah. Betapa saat itu teman-temannya sangat disibukkan dengan urusan-urusan yang namanya bimbel, sebuah upaya mempersiapkan diri untuk masuk perguruan-perguruan tinggi negeri. Agaknya ia tidak tertarik dengan hiruk pikuk itu, meskipun ia juga punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Akibatnya, ia tidak bisa mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri karena ketinggalan informasi. Tentu pilihannya saat itu adalah masuk sekolah tinggi yang memang tidak memerlukan bimbel serta mengikuti SMPTN.

Berhubung pada saat itu ia telah berkenalan dengan dunia musik, maka banyak diantara teman-temannya merekomendasikan untuk mendaftar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia dengan mendalami musik itu sendiri. Dengan modal musikal berirama metal dan pekik-pekik growl underground, begitu mudahnya ia melewati rangkaian test masuk, dengan mudah pula ia menjadi mahasiswa jurusan musik dengan instrumen masyor gitar klasik di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang.

Maka mulailah Alex berkenalan dengan musik yang demikian rumitnya, sangat berbeda dengan apa yang dimainkannya di studio-studio band bersama teman-temannya. Ia memasuki dunia musik yang begitu rigid dengan rumus-rumus dan teori serta attitude-attitude yang sangat serius. Teknik-teknik permainan yang tidak bisa tidak harus dicobakan, sebuah pengetahuan yang harus ditunjang dengan proses latihan terus menerus. Delapan jam sehari di luar pekuliahan bahkan lebih dihabiskan berdua-duaan di ruang-ruang kecil bersama kekasih barunya, gitar klasik.

Alex Septiyono sedang memainkan gitar klasik

Tentu tidak cukup di dalam ruagan saja, sebagai performer tentu Alex membutuhkan yang namanya panggung dan penonton. Tanpa panggung dan penonton performer adalah kesia-siaan. Maka, mulailah memberanikan diri untuk ada di atas panggung. Dimulai dengan ujian mayor, ujian resital, hingga melebur dengan teman-teman lintas disiplin di luar musik. Kerap diminta memainkan nada-nada magis dari gitarnya untuk pementasan-pementasan teater, ilustrasi-ilustrasi film, ataupun membantu ujian-ujian akhir mahasiswa musik karawitan.

Tak mau terjebak dengan sentimen-sentimen serta dikotomi antara musik barat dan timur membuatnya selalu membuka diri untuk kerja-kerja kolektif di musik, yang justru semakin memperkaya vokabulari musikalnya. Dengan beberapa orang teman-temannya kemudian membentuk sebuah kelompok Orkes Keroncong La Paloma, sembari mencari pengalaman-pengalaman musikal baru, maka ia jadikan La Paloma sebagai ruang eksplorasi mempertemukan musik barat dan timur. Diantara beberapa karya komposisinya bersama La Paloma antara lain, prelude to sijobang, mamilin nan tigo sapilin. Dua buah karya yang berangkat dari sijobang yang kemas dengan bungkusan keroncong, serta bentuk komposisi dengan pendekatan musikologi.

Lereng Gunung Sago; rantau musikal Alex Gondrong

Setelah menyelsaikan kontrak perkuliahan di STSI Padangpanjang (baca: ISI) kemudian Alex bersama rekan-rekannya di La Paloma memilih hijrah ke kota Payakumbuh. Dengan harapan bisa berkenalan dengan kesenian-kesenian yang tersebar di banyak tempat di luak Limo Puluah, dan bagaimana kemudian bisa membuat program-program kesenian di tengah-tengah masyarakat. Namun, alasan jarak yang jauh menjadi persoalan bagi sebagian personil di La Paloma yang masih berkuliah di ISI Padang Panjang, sehingga program kerja tidak berjalan sebagai mana perencanaannya. Berapa personil La Paloma memilih kembali ke kampus, dengan Angok-angok paweh Alex bertahan di kegagahan sebagai seniman tanpa kawan-kawan.

Alex Septiyono pada pergelaran bersama anak nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang

Hingga akhirnya, Alex bertemu dengan Andes Satolari pimpinan sanggar Puti Ambang Bulan di lereng Gunung Sago, nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kec. Luak, Kab. Lima Puluh Kota. Kemudian ditawari untuk tinggal dan menetap di jorong Sikabu-Kabu sebagai basis kesenian anak nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Disinilah kemudian Alex melanjutkan kerja keseniannya yang tidak sempat dikerjakan bersama La Paloma.

Tahun 2018 lalu, Alex ikut mengajak anak nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang untuk memetakan potensi kesenian nagari mereka, kemudian mendorongnya membuat kelompok-kelompok kesenian. Setelah kelompok-kelompok kesenian terbentuk, mereka didirong pula untuk membuat karya dengan didampingi masing-masingnya oleh satu orang fsilitator. Alex sendiri juga mengambil peran itu, memfasilitasi salah satu kelompok dan membuat karya bersama. Setelah proses latihan berjalan kurang lebih 3-4 bulan, hasil latihan kemudian dipresentasikan di tengah-tengah masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Pergelaran ini kemudian mereka sebut dengan Legusa Festival, sebuah perayaan aktivitas kesenian anak nagari.

Alex Septiyono bersama kelompok musik Carano Badantiang jorong Tanjung Haro Selatan

Dua tahun sudah pergelaran Legusa Festival, dua tahun itu pula Alex mendapatkan pengalaman tak terduga. Alex Septiyono, pria gondrong dengan kumis tipis yang rapi di atas bibirnya tersebut, yang beberapa tahun yang lalu, ia adalah seorang musikolog, seorang fingerpicking. Musisi yang biasa bertasbih di sepertiga malam dengan dua buah gitar klasiknya. Serta kita-kitab etude yang berserakan di tempat tidurnya, yang dengan angkuhnya menyuruh Koyunbaba memainkan opus no 19 di dalam notebooknya. Dengan ketakterdugaan itu ia terus berkembara hingga sampai di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kec. Luak, Kab. Lima Puluh Kota. Menceburkan diri ke dalam aktivitas etnomusikolog, yang kuyup dalam bunyi-bunyi tradisi, yang dengan angkuh pula menyuruh Ajis St Sati meniupkan dendang-dendang bimbang di kaki gunung malintang, gunung Sago yang tenang.

Tinggalkan Balasan